Sejarah Asal Usul Jak, Lakun, Kunion dan Aktivitas Masyarakat Setempat
Sejarah Asal Usul Jak, Lakun, Kunion dan Aktivitas Masyarakat Setempat
Tunbaba.blog _ Kampung tua peradaban ke tiga sebelum Tunnoe hari ini. Bukit ini Namanya "Lakun" terletak sekitar 1km dari Lokasi Smak Trinitas Nenotun nantinya. Dibawah bukit ini adalah peradaban kampung tua Niokpenu atau Dakin (konon di kampung tua ini tumbuh subur sekumpulan pohon Nangka yg dalam bahasa setempat "Dak/jak" karna serumpun maka disebut Dakin/Jakin) yg kemudian menjadi Desa Jak sebelum mekar 3 menjadi Desa Jak, Tunnoe dan Tuntun Paroki St Arnoldus Jansen Jak saat ini.
Dalam edisi cerita sebelumnya sudah diulas bahwa Lakun ini dikenal masyarakat setempat sebagai bukit berjenis kelamin perempuan yg bersuamikan Bukit kunion di samping kananNya yg juga suda diceritakan sebelum bahwa konon ketika gunung sinai berpindah ke laut sitran (Tiles saat ini) ia sempat singgah mengajak Kunion untuk turut serta tetapi diketahui Lakun istrinya sehingga tindakan refleks seorang istri yg hendak ditinggalkan adalah mengangkat sebatang bambu dan melemparkannya ke kunion suaminya dan kena tepat paha kiri sehingga kunion batal pergi karena pahanya hampir patah ( ada retakan dan sedikit runtuhan di sisi kiri bukit kunion dan bambu tak beruas yg tumbuh dibawa bukit kunion). " Bapak Wilhelmus Nabu "
Cerita berbeda mengenai nama Lakun dari bapa Barnabas Koin, orangtua Rm. Theo Taus. Ceritanya demikian, konon di bawah bukit itu terjadi proses pembuatan lilin yg dilakukan oleh orang - orang kulit putih yang diduga orang - orang Portugis. Kebetulan di hutan sekitar Lakun terdapat banyak lebah yang menjadi potensi untuk mmbuat lilin. Orang2 Portugis kala itu menjadikan bukit itu sebagai tempat persinggahan sekaligus tempat beristirahat saat mereka berkeliling menyebarkan agama Katolik.
Kebetulan bahasa Dawan untuk proses pembuatan lilin disebut 'talak nini' yg berpusat di bawah bukit itu maka akhirnya berkembang penyebutan terhadap nama bukit itu adalah 'lak un' artinya pusat pembuatan lilin maka nama itu terbawa sampai sekarang dgn sebutan Lakun.
Selanjutnya berkaitan dgn nama Jak sesungguhnya tidak merujuk pada nangka tetapi adalah pengaruh dialektika orang Tunbaba pada umumnya sehingga 'lak' bergeser menjadi 'dak' kemudian berubah menjadi jak yg kini menjadi nama kampung tercinta kita yakni Jak. " Bapak Yanto Kefi "
Tentang mitos, sejarah asal kata nama tempat itu ibarat seekor gajah yang kita pandang dan kita maknai dari sudut pandang yang berbeda beda, ada yang kebetulan posisi berdiri di kepala kemudian memberikan kesimpulan bahwa gajah itu memiliki belalai panjang sebagai penciuman, pengganti tangan telinga besar,punya taring, dll, ada yang dari belakang dan memberikan kesimpulan berbeda, ada yang dari samping kiri dan kanan lalu memberikan keterangan yang berbeda-beda tetapi sebenarnya gajah itu satu yang memiliki semuanya.
Kita telusuri sejarah memang bangsa portugis dan Belanda selain mencari rempah rempah di Indonesia, di pulau Timor ini mereka mencari lilin sebagaimana ulasan Bapak Yanto Kefi dan juga yang sangat terkenal adalah Cendana.
Artinya suatu sejarah peradaban tdk pernah habis untuk diceritakan karna banyak versinya. Tutur Bapak Wilhelmus Nabu
Bagaimana Kaitannya dengan Nunpene ?
Nunpene dan jak itu satu sebagai Tunbaba tetapi Tunbaba sendiri terbagi menjadi 2 wilayah dalam satu lingkaran.
Bagian timur Tunbaba meliputi desa Taekas, Femnasi, Jak, Tunnoe dan Tuntun dikenal dengan sebutan Muni Tunbaba (Fatba bian) yang dipimpin Usif Ukat, sedangkan Oesena, Amol, Bitefa, Bokon dan Kaibaon disebut Nael Tunbaba yang dipimpin Usif Sakunab. ( Bapak Wilhelmus Nabu )
Mari menggali sejarah agar tidak terputus atau musnah
Terimakasih untuk semua yang sudah berbagi tentang sejarah
"Tabe neukit ok'oke"
Lokasi : Desa Tunoe, Kec. Miomaffo Timur,
Kab. Timor Tengah Utara - NTT


Mantap
BalasHapusTernyata sudah dituangkan dalam tulisan ini agar bisa kami tau ceritanya
Hapus